Tugu Binokasih: Tanda Kasih dan Warisan Luhur Sumedang
Di jantung kota Sumedang, berdiri sebuah monumen yang dikenal sebagai Tugu Binokasih. Bagi banyak orang yang berlalu lalang, ia mungkin hanya sebuah penanda kota yang indah. Namun, di baliknya tersimpan sebuah kisah epik tentang kepercayaan, tanggung jawab, dan peralihan sebuah peradaban besar di tatar Sunda.
Nama “Binokasih” sendiri bukanlah sekadar nama. Ia berasal dari frasa “diserahkan dengan penuh kasih”. Nama ini merujuk pada peristiwa bersejarah yang menjadi fondasi mengapa Sumedang dianggap sebagai penerus sah dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang agung.
Kisah ini bermula pada abad ke-16, saat Kerajaan Sunda Pajajaran menghadapi keruntuhannya. Untuk menyelamatkan marwah dan simbol kedaulatan kerajaan, empat pejabat tinggi yang dikenal sebagai Kandaga Lante melakukan perjalanan heroik. Mereka membawa atribut-atribut kebesaran kerajaan, yang paling utama adalah Mahkota Binokasih Sanghyang Pake—mahkota emas bertabur permata milik Raja Sunda.
Mahkota dan pusaka lainnya tersebut kemudian mereka serahkan dengan tulus ikhlas kepada Prabu Geusan Ulun, raja Sumedang Larang saat itu. Penyerahan ini bukanlah tanda penaklukan, melainkan sebuah amanat suci. Sumedang Larang dipercaya untuk melanjutkan warisan, kepemimpinan, dan kehormatan Pajajaran.
Oleh karena itu, Tugu Binokasih yang kita lihat hari ini adalah simbol abadi dari kepercayaan (amanat) dan kasih (kasih) yang diberikan kepada Sumedang untuk menjaga peradaban Sunda. Monumen ini bukan sekadar batu dan semen, melainkan pengingat bahwa kepemimpinan terbesar lahir dari kepercayaan yang diberikan dengan tulus.
Kisah di balik Tugu Binokasih mengajarkan kita tentang arti sebuah amanat dan kepemimpinan. Dari sini, ribuan ide tulisan bisa lahir: cerita petualangan empat Kandaga Lante, dialog imajiner saat penyerahan mahkota, atau puisi tentang makna ‘kasih’ dalam menjaga sebuah warisan. Sejarah yang membatu dalam sebuah tugu, kini siap kamu hidupkan kembali melalui aksaramu.